Sunday, 28 November 2010

APA ITU MOTIVASI ?


Istilah motivasi berasal dari bahasa latin yaitu movere yang berarti bergerak atau menggerakkan. Motivasi diartikan juga sebagai suatu kekuatan sumber daya yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku manusia. Motivasi sebagai upaya yang dapat memberikan dorongan kepada seseorang untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki, sedangkan motif sebagai daya gerak seseorang untuk berbuat. Karena perilaku seseorang cenderung berorientasi pada tujuan dan didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan cita-cita tertentu.

Dalam konteks pekerjaan, motivasi merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong seorang karyawan untuk bekerja. Motivasi adalah kesediaan individu untuk mengeluarkan upaya yang tinggi untuk mencapai tujuan organisasi (Stephen P. Robbins, 2001.

Sumber: http://kangmas.blogdetik.com/2009/01/14/motivasi-diri/

Sunday, 21 November 2010

Mengapa Kohesivitas Penting?


Kohesivitas penting bagi kelompok karena ia menyatukan beragam anggota menjadi satu keompok. Tingginya kohesivitaas kelompok berhubungan dengan konformitas terhadap norma kelompok, kemampuan anggota untuk menitikberatkan pada persamaan sebagai anggota kelompok, meningkatkan komunikasi di dalam kelompok, dan meningkatkan rasa suka terhadap anggota keompok (Voughan dan Hogg, 2005)

Meski kohesivitas penting bagi kelompok, namun ia tidak selalu dapat meningkatkan produktivitas kelompok. Malik (1992), dalam studinya pada lemabaga sawadaya masyarakat Bandung, Jawa Barat, menemukan bahwa produktivitas lebih tinggi pada kelompok kohesif yang heterogen daripada kelompok kohesif yang homogen. Hasil ini menunjukkan bahwa kohesivitas saja tidak cukup untuk meningkatkan produktivitas. Ada faktor – faktor lain yang berpengaruh seperti keragaman anggota dan kemungkinan besar juga jenis organisasi serta pekerjaannya.

Sumber : Sarwono, Sarlito W dan Meinarno, Eko A. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta : Salemba Humanika.

KOHESIVITAS KELOMPOK


· “…essential property a group that makes it act like a group (solidarity,esprit de corps, team spirit, morale); psychological process that transform an aggregate of individuas into a group” (Vaughan dan Hagg, 2005).

“…property esensial dalam grup yang membuatnya bersikap seperti grup tersebut (solidaritas, espprit de crops, semangat tim, moral); proses psikologis yang mentrnasformasikan sejumlah individu ke dalam sebuah grup”).

· “…all forces (factors) that cause group members to remain in the group”(Baron et all.,2008.)

“…semua kekuatan ( faktor yang menyebabkan anggota grup tetap berada dalm grup tersebut”.

Berdasarkan dari definisi – definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengankohesivitas kelompok adalah faktor – faktor yang dimiliki kelompok yang membuat anggota kelompok tetap menjadi anggota sehingga terbentuklah kelompok.

Sumber : Sarwono, Sarlito W dan Meinarno, Eko A. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta : Salemba Humanika.

Saturday, 13 November 2010

TOKOH PENGKRITIK TEORI GROUPTHINK

Sebagaimana teori-teori lainnya, teori groupthink juga tak lepas dari kritik. Mereka yang mengkritik teori ini, antara lain adalah:

1. Aldag dan Fuller (1993)

Menurut Aldag dan Fuller, analisis groupthink bersifat retrospektif (berlaku surut), sehingga Janis dapat mengambil bukti-bukti yang mendukung teorinya saja. Keterpaduan kelompok itu sendiri belum tentu menimbulkan pikiran kelompok. Misalnya perkawinan dan keluarga, dapat tetap terpadu atau kohesif tanpa menimbulkan pikiran kelompok, dengan tetap membiarkan perbedaan pendapat tanpa mengurangi keterpaduan itu sendiri.

2. Tetlock, dkk (1992)

Tetlock, et.al menilai, fakta sejarah membuktikan bahwa ada juga kelompok-kelompok yang sudah mengikuti prosedur yang baik, namun tetap melakukan kesalahan, misalnya ketika Presiden Carter dan penasehat-penasehatnya merencanakan pembebasan sandera di Iran pada tahun 1980. Operasi itu gagal total dan Amerika Serikat dipermalukan, walaupun kelompok itu sudah mengundang berbagai pendapat dari luar dan memperhitungkan segala kemungkinan secara realistik.

Sumber: http://edsa.unsoed.net/?p=72

CONTOH GROUPTHINK


Kajian groupthink menemukan fakta menarik bahwa banyak peristiwa penting yang berdampak luas disebabkan oleh keputusan sekelompok kecil orang, yang mengabaikan informasi dari luar mereka. Misalnya dalam peristiwa Pearl Harbour (1941), keputusan fatal diambil karena mengabaikan informasi penting intelejen sebelumnya.Minggu-minggu menjelang penyerangan Pearl Harbour di bulan Desember 1941 yang menyebabkan Amerika Serikat terlibat Perang Dunia II, komandan-komandan militer di Hawaii sebetulnya telah menerima laporan intelejen tentang persiapan Jepang untuk menyerang Amerika Serikat di suatu tempat di Pasifik. Akan tetapi para komandan memutuskan untuk mengabaikan informasi itu. Akibatnya, Pearl Harbour sama sekali tidak siap untuk diserang. Tanda bahaya tidak dibunyikan sebelum bom-bom mulai meledak. Walhasil, perang mengakibatkan 18 kapal tenggelam, 170 pesawat udara hancur dan 3700 orang meninggal.

Contoh lain adalah Penyerangan Bay of Pigs (1961). Presiden John F. Kennedy dan penasehat militernya pada tahun 1961 mencoba menggulingkan presiden Fidel Castro dari Kuba dengan menyusupkan 1400 pelarian Kuba yang sudah dilatih oleh CIA (dinas rahasia AS) ke Kuba melantai pantai Babi (Bay of pigs) di Kuba. Akan tetapi, mereka mengabaikan peringatan-peringatan intelejen bahwa rencana operasi ini sudah bocor ke pihak Kuba dan bahwa Kuba sudah bersiap menggagalkan operasi tersebut. Hasilnya, hampir semua penyusup itu terbunuh atau tertangkap dan Fidel Castro semakin kuat kedudukannya di Kuba, dan semakin kuat hubungannya dengan Uni Sovyet.

Sumber: http://edsa.unsoed.net/?p=72

Faktor Determinan dalam Groupthink

Berdasarkan penelitian yang berkembang pada periode selanjutnya, diperoleh hipotesisi mengenai faktor-faktor determinan yang terdapat pada pikiran kelompok, yaitu (Sarwono, 1999) :

1. Faktor Anteseden

Kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk meningkatkan pikiran kelompok, maka keputusan yang dibuat oleh kelompok akan bernilai buruk. Akan tetapi, kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk mencegah pikiran kelompok, maka keputusan yang akan dibuat oleh kelompok akan bernilai baik.

2. Faktor Kebulatan Suara

Kelompok yang mengharuskan suara bulat justru lebih sering terjebak dalam pikiran kelompok, dari pada yang menggunakan sistem suara terbanyak .

3. Faktor Ikatan Sosial-Emosional

Kelompok yang ikatan sosial-emosionalnya tinggi cenderung mengembangkan pikiran kelompok, sedangkan kelompok yang ikatannya lugas dan berdasarkan tugas belaka cenderung lebih rendah pikiran kelompoknya.

4. Toleransi terhadap Kesalahan

Pikiran kelompok lebih besar kalau kesalahan-kesalahan dibiarkan dari pada tidak ada toleransi atas kesalahan-kesalahan yang ada .

Sumber: http://edsa.unsoed.net/?p=72

Gejala Perilaku Kelompok


Ilustrasi analisis Janis selanjutnya mengungkapkan kondisi nyata suatu kelompok yang dihinggapi oleh pikiran kelompok, yaitu dengan menunjukkan delapan gejala perilaku kelompok sebagai berikut.

1. Persepsi yang keliru (illusions), bahwa ada keyakinan kalau kelompok tidak akan terkalahkan.

2. Rasionalitas kolektif, dengan cara membenarkan hal-hal yang salah sebagai seakan-akan masuk akal.

3. Percaya pada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok.

4. Stereotip terhadap kelompok lain (menganggap buruk kelompok lain).

5. Tekanan langsung pada anggota yang pendapatnya berbeda dari pendapat kelompok.

6. Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari konsensus kelompok.

7. Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat.

8. Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards).

Sumber: http://edsa.unsoed.net/?p=72